Saturday, April 30, 2011

BELANDA, PELOPOR FILM DOKUMENTER DUNIA


Penjabaran film dokumenter bisa diawali dengan penjelasan bahwa film pertama dunia adalah film dokumenter, bukan film cerita atau film lainnya. Beda film dokumenter dengan film fiksi yaitu menuturkan peristiwa yang otentik dan apa adanya. Sedangkan film fiksi, kisah atau penuturannya merupakan suatu kreatifitas imajinatif.
Sejarah film dokumenter di Indonesia sendiri berawal dengan kolonialisme. Ketika Belanda mulai memperkenalkan filmnya, dengan layar tancap di daerah Kebon Kacang, belakang Hotel Indonesia - Jakarta. Belanda memperlihatkan kejayaan dan kemewahan ratu mereka. Film dokumenter sendiri bisa menjadi media pembelajaran yang bersifat pencerahan tapi juga bisa memberikan pemahaman yang justru manipulatif. Hal ini yang membuat film dokumenter menjadi lebih sensitif dibanding cerita biasa. Tak kurang dari 8 ribu rol mikrofilm tersimpan di Arsip Nasional Indonesia. Sebagian besar menggambarkan peristiwa yang terjadi tahun 1930 sampai 1950. Film dokumenter itu produksi perusahaan film Belanda. Materi asli film ada di Leiden, Belanda, Indonesia memperoleh kopinya. Syarat sebelum kopi film itu dikirimkan Belanda ke Indonesia di antaranya film tidak boleh diperdagangkan dan penyiarannya hanya untuk penelitian dan proyek-proyek nonkomersial.

Film dokumenter Belanda juga ditayangkan oleh Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia saat menyelenggarakan Kongres Internasional 40 Tahun Program Studi Belanda di Indonesia pada tanggal 20-24 April 2010 lalu di Kampus FIB, UI, Depok. Kongres menyuguhkan tema tentang Masyarakat Multikultur. Pada kesempatan ini ditampilkan pemutaran film Belanda seperti “Shouf Shouf Habibi”, yang bertema kehidupan multikultural, serta film “Max Havelaar”, sebuah film yang  sudah cukup dikenal masyarakat Indonesia.

  
Di Indonesia masih perlu stimulus. Mayoritas masyarakat daerah di Indonesia belum melihat bahwa dokumenter bukan sekadar sebuah produk entertaiment, tapi sebuah produk untuk media pembelajaran yang maknanya lebih dalam dan lebih jauh. Masyarakat Indonesia di daerah yang tingkat pendidikannya sangat rendah sehingga membaca pun tidak bisa, ketika diputarkan sebuah film instructional documenter mereka langsung paham. Nafas baru bagi dunia dokumenter di Indonesia dimulai dari dokumenterseri berjudul 'Anak Seribu Pulau' menjelang akhir kekuasaan Orde Baru, diproduserkan Mira Lesmana. Disusul dengan sebuah dokumenter  menembus jaringan bioskop 21 karya Tino Sawunggalu dengan judul 'Student Movement' mengenai peristiwa Mei 1998.

Festival yang cukup besar dan bergengsi di Belanda, yaitu International Documentary Festival Amsterdam (IDFA) menjadi pelopor festival dunia untuk dokumenter. Terdapat berbagai jenis kriteria penilaian seperti ada film dokumenter berdurasi 1 – 1,5 jam, dan short documentary berdurasi 40 - 45 menit. IDFAcademy setiap tahunnya menawarkan program pelatihan yang dirancang untuk para sineas muda dan mahasiswa film dari Belanda dan seluruh dunia dan memungkinkan Anda menjadi film maker yang luar biasa dan profesional. Dalam Workshop Anak-Anak & Documents, para sineas muda mengembangkan rencana untuk sebuah film dokumenter berdurasi 15 menit. Penekanannya adalah pada rancangan, tulisan dan visualisasi. Keberhasilan workshop ditunjukkan oleh tingginya jumlah film selesai yang muncul dari ide-ide yang dikembangkan dalam workshop ini.


Kita melihat mereka mau investasi di dokumenter karena menyadari nanti mereka akan memiliki arsip visual mengenai dunia. Hal-hal seperti itu yang kita dapat pelajari dari negeri Belanda.


No comments:

Post a Comment